Tokoh

Surat untuk Bung Hatta

Bung Hatta. Foto (www.sarisejarah.com)
Written by Disna Riantina

Hei bung, apa kabar? Lama sudah aku tidak mendengar gagasanmu diperdebatkan dan dibahas diruang publik. Padahal, dizaman sekarang, gagasanmu tentang ekonomi dan demokrasibisa menjadi obat mujarab dari realitas kekinian.Sewaktu SMA, pembahasanmengenai tokoh proklamator bangsa kita,begitu massif. Namun, ketika kuliah, justru banyak pakar-pakar asing yang menjadi referensi,aneh bung! Padahal, kita punya pakar ekonomi yang gagasannya luar biasa, seperti engkau bung. Mengenai politik? jangan tanya. Ada Soekarno, Syahrir dan masih banyak lagi. Engkau dan Soekarno menjadi semacam angka 10, yang jika hanya salah satu saja ada, maka akan bernilai rendah.

(Foto diambil dari Goes5.Blogspot.com)

Ketokohan dan pemikiranmu memang tak lekang waktu, bung!

Walau kita belum pernah bertemu dan berdiskusi, karena kita berbeda generasi, tapi sedikit banyaknya akusudah mengenal lewat karya-karya yang kau tinggalkan. Yang paling berkesan,tentu mengenai “cinta tak sampai” kau dengan sepatu Billy yang kau inginkan itu. Bahkan guntingan iklan tentang sepatu tersebut masih tersimpan rapi, serapi keinginanmu untuk membelinya.Nafsu duniawi engkau dapat engkau tekan dengan rasa kolektif yang kau miliki. Bagiku, kau memang satu dari sedikit tokoh dan sosok negarawan negeri ini.

Bung! Padahal kau ketika itu sudah menjabat sebagai wakil presiden, tetapi tetap kau belum mampu secara finansial untuk membelinya. Keperluan rumah tangga dan membantu kerabat selalu engkau dahulukan ketimbang keinginan pribadi untuk membeli sepatu itu. Dan lagi, kau tidak menggunakan kelebihan posisimu untuk mempermudah kau mendapatkan sepatu itu, nah itu yang membuat berkesan bagi ku bung!

Di zaman sekarang, sangat susah menjadi pejabat dengan laku seperti kau, bung! Kalaupun ada, itupun belum terdeteksi. Sekarang, pejabat-pejabat begitu mudah mendapatkan barang yang ia inginkan, tentu saja melalui pemanfaatan atas posisi atau jabatanmereka, misalnya saja kasus papa minta saham dulu, bung! Bagaimana caranya demokrasi kita akan berkualitas jika elitnya seperti ini?

Dizaman sekarang masyarakat semakin miskin dan pejabat semakin kaya. Bentangan jurang perbedaan sosial semakin jauh. Sekali lagi bung, inilah realita bangsa kita sekarang. Jabatan menjadi tujuan, bukan lagi amanah. Sepucuk surat ini menjadi salam perkenalan dariku. Semoga, semangat kalian para founding people tidak akan pudar di negeri ini.

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment