Sikap

Pesta Demokrasi, Untuk Siapa ?

kesbangpol.kemendagri.go.id
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

“Kita bertanya: Kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga. Orang berkata: kami ada maksud baik. Dan kita bertanya: maksud baik untuk siapa?  Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina.  Ada yang bersenjata, ada yang terluka. Ada yang duduk, ada yang di duduki. Ada yang berlimpah, ada yang terkuras. Dan kita disini bertanya : “ Maksud baik saudara untuk siapa?” saudara berdiri dipihak yang mana? Kenapa maksud baik dilakukan, tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya ? Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota” (kutipan Sajak Pertemuan Mahasiswa – W.S Rendra).

 

Pesta demokrasi yang seharusnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, kini seakan hanya dinikmati oleh para elit politik saja. Hiruk-pikuk Pemilihan Presiden 2019 (Pilpres 2019) semakin kencang, tetapi terdapat kealpaan partisipasi masyarakat didalamnya. Orientasi masing-masing kubu hanya soal menang atau kalah, seakan rakyat hanya diminta diam dan perhatikan saja. Bahkan, deklarasi pasangan calon yang sudah mendekati hari-H, mengindikasikan bahwa pasangan yang dicalonkan, khususnya cawapres, hanya pilihan masing-masing kubu, rakyat tidak diberikan ruang untuk berpartisipasi, apakah menolak atau mendukung. Ruang partisipasi hanya diberikan saat pemilihan, yaitu untuk mencoblos.

Padahal, kedaulatan ada ditangan rakyat. Rakyat memberi sebagian kewenangan mereka untuk pemimpin yang dipilih, artinya legitimasi yang dimiliki para pemimpin itu adalah kewenangan yang dipercayakan oleh masyarakat untuk mereka.  Pemilu yang menjadi cerminan dari demokrasi yang berguna agar para pemimpin memang merupakan representasi dari rakyat, serta tidak menjadi bidak-bidak dari para elite politik atau para Invisible Hand.

Pesta demokrasi jangan dijadikan arena pacuan oleh para elite untuk berlomba-lomba finish dan menang. Pemilu  yang seharusnya bisa menghasilkan para pemimpin pro rakyat, malah seakan dijadikan tempat pemancingan bagi elit politik, dengan ikan-ikannya adalah suara rakyat yang digunakan oleh elit untuk perbekalan mereka menghadapi kontestasi Pilpres 2019. Penyimpangan dari tujuan pemilu yang seperti ini semakin menegaskan, Pesta demokrasi untuk siapa?

Sehingga, pertanyaan W.S Rendra dalam penggalan puisinya tadi harus kita jawab bersama, “ Maksud baik saudara untuk siapa?” saudara berdiri dipihak yang mana? kenapa maksud baik dilakukan, tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya ? Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota, apakah ilmu itu untuk pembebasan, atau penindasan?“

#Politikgagasan

#Politikberkeadaban

*Politikpartisipatif

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment