Tokoh

KH Dewantara, Pendidikan, dan Kemerdekaan

pinterest.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

 

Ki Hadjar Dewantoro, memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau dilahirkan Sebagai bangsawan yang dan dibesarkan di lingkungan keraton Yogyakarta. Sebagai bangsawan, tentu beliau memperoleh pendidikan yang layak. Namun lantaran sakit, beliau tidak bisa menamatkan sekolahnya di STOVIA. Namun demikian, sakit tidak mengundurkan niatnya untuk belajar. Ia kemudian menjadi jurnalis. Saat menjadi jurnalis, beliau terkenal handal menyajikan tulisan komunikatif dan kadang juga provokatif. Provokatif dengan pesan yang mampu membangkitkan semangat antikolonialisme bagi pembaca. Salah satu tulisannya yang melegenda adalah “Als ik eens Nederlander was” (Jika Saya Seorang Belanda). Tulisannya itu membuat marah pemerintah kolonial. Pihak kolonialpun kemudian menghukum Ki Hadjar Dewantara dengan mengasingkannya ke Pulau Bangka. Namun, karena diasingkan ditempat yang terpencil,  maka beliau berfikir tidak akan banyak hal yang bisa dilakukan, sehingga akhirnya beliau bersama dua rekannya (Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo) meminta diasingkan ke Belanda saja.

Hukuman pengasingan pun tidak membuat semangat Ki Hadjar Dewantoro untuk menuntut ilmu luntur. Justru di negeri penjajah inilah Ki Hadjar makin tertarik pada dunia pendidikan dan membuatnya makin produktif. Sejarah mencatat justru banyak tokoh yang membuat karya yang fenomenal ketika sedang dalam masa hukuman, baik penjara maupun pengasingan. Sebut saja Tan Malaka dan Gramsci. Berkat kegigihannya dalam belajar, Ki Hadjar Dewantara memperoleh Europeesche Akte di bidang pendidikan dan pengajaran. Setelah lama di negeri Belanda, akhirnya pada tahun 1918 Ki Hadjar Dewantoro kembali ke tanah air.

Semangat Pengabdian

Sudah menjadi pengetahuan umum dalam sejarah bahwa terdapat ketimpangan pendidikan pada zaman penjajahan. Pendidikan yang layak hanya didapat oleh kaum bangsawan atau priyayi, serta keturunan Eropa. Sementara kaum pribumi merupakan penduduk kelas tiga yang kapasitas pendidikannya tidak memadai.

Ki Hadjar Dewantoro, yang notabene adalah seorang Priayi keturunan Bangsawan Keraton Yogya, mempunyai cita-cita mulia. Beliau ingin mendirikan sekolah yang tidak hanya diisi oleh orang Belanda dan kaum priayi, namun juga diisi oleh kaum pribumi. Artinya, Ki Hadjar Dewantoro menginginkan penyamarataan pendidikan. Mimpi pun terwujud,  beliau  akhirnya bisa menyelenggarakan sekolah bagi masyarakat disemua kalangan, tanpa membedakan kelas dari masyarakat itu.

Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut atau yang lebih dikenal sebagai Perguruan Nasional Taman Siswa, sebuah sekolah yang bercorak nasional dan diperuntukkan untuk semua kalangan tak terkecuali kaum pribumi. Tujuan utama dari pendirian Taman Siswa adalah untuk memberikan pengajaran secara luas dengan dasar kerakyatan, mengembangkan kepribadian masyarakat yang baik dan mengajarkan tentang kebebasan individu di dalam konteks kebudayaan nasional.

Pendidikan yang diselenggarakan oleh Perguruan Taman Siswa melingkupi Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Guru (SPG), Taman Karya (SMK), dan Taman Madya (SMA). Filosofi pembelajarannya adalah Ing Ngarsa Sungtulodo (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun karso (di tengah menjadi pelopor), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). 33 tahun sejak berdirinya Taman Siswa atau pada 15 November 1955, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Prasarjana yang kini menjadi Universitas Sarjanawinata Taman Siswa (UST).

Refleksi Sejarah

Sejarah telah mencatat, bahwasanya kita banyak berhutang budi kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Dalam konteks pendidikan, salah satunya kepada K.H Dewantoro, yang menjadi pelopor pendidikan bagi kaum pribumi. Bahkan semboyan-semboyannya masih terpakai hingga kini. Tak heran kalau kita harus kembali merenungi  tujuan Soekarno ketika mengatakan Jasmerah, agar kita kembali menjadi bangsa yang besar.

Sumbangsih K.H Dewantoro terhadap dunia Pendidikan di Indonesia sangat besar, sehingga beliau dijuluki sebagai “Bapak Pendidikan Indonesia”. Beliau merupakan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Indonesia yang pertama. Ajarannya yakni Ing Ngarsa Sungtulodo (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun karso (di tengah menjadi pelopor), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan) akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia. Semboyan Tut Wuri Handayani merupakan semboyan yang dipakai dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan Kemendikbud juga memakai semboyan itu dalam logonya.

Pendidikan menjadi kebutuhan abadi setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Di zaman penjajahan, pendidikan pula salah satu hal yang membuat bangsa ini terbelakang. Kreativitas dan kemajuan bangsa menjadi tersendat karena kurangnya pengetahuan masyarakat. Kurangnya pendidikan yang juga menyebabkan para penjajah dengan mudahnya melaksanakan politik Devide et impera, atau sering kita dengar politik adu domba, sehingga membuat kita terpecah belah, kemudian satu sama lain berperang.

Pendidikan merupakan senjata ampuh yang bisa digunakan untuk mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan, seseorang akan mengalami proses pembelajaran yang membuat mereka dari semula tidak tau, kemudian menjadi tau. Dalam refleksi sejarah ini, sudah saatnya kita membayar hutang sebagai generasi penerus bangsa. Dimana cita cita luhur itu tidak boleh terputus dan harus untuk terus dilanjutkan.

Untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantoro, pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantoro Kirti Griya, Yogyakarta Untuk melestarikan semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantoro. Ki Hadjar Dewantoro ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

#Merdeka!

#Politikbergagasan #Politikbermartabat

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment