Tokoh

Paulo Freire dan Pendidikan yang Memerdekakan

www.youtube.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

 

Pendidikan diciptakan dan dibangun bersama, bukan untuk kaum tertindas, karena Pendidikan adalah proses untuk kemerdekaan, bukan untuk penjinakan social dan budaya (Paulo Freire)”

 

Pendidikan menjadi senjata utama untuk memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud bukan hanya dalam konteks perang, tetapi dalam kemerdekaan Intelektualpun kita juga harus merdeka.

Di Indonesia, kita banyak mengenal tokoh-tokoh yang gencar mengkampanyekan pendidikan menjadi objek yang paling dibutuhkan dalam kehidupan, seperti Ki Hadjar Dewantoro, R.A Kartini, dan Dewi Sartika.

Dalam khasanah perjuangan dan antipenindasan lainnya, membahas pendidikan juga tidak bisa lepas dari tokoh pendidikan yang berasal dari Brazil, Amerika Latin, yaitu Paulo Freire. Paulo Freire menjadikan pendidikan sebagai alat untuk memerangi penindasan. Baginya, setiap penindasan itu adalah dehumanisasi, dan tidak ada alasan apapun bagi Freire yang membenarkan dehumanisasi itu.

Saat usia Freire beranjak 11 tahun, ia telah merasakan bagaimana kelaparan dan ketertindasan. Hal ini menjadi lecutan bagi Freire untuk bertekad mengabdikan dirinya untuk memberantas kelaparan yang disebabkan penindasan tersebut. Oleh karena itu, guna pendidikan bagi Freire ketika dewasa adalah untuk menunjang proses kemerdekaan, dengan pendidikan, seseorang bisa keluar dari zona penindasan.

Sekitar tahun 1960, jumlah penduduk yang bisa memilih (ikut pemilu) di Brazil adalah 34,5 juta jiwa, namun yang diperbolehkan memilih hanya sekitar 15,5 juta jiwa. Hal ini disebabkan salah satu syarat dari bolehnya ikut Pemilu adalah mampu menuliskan namanya sendiri. Bisa kita asumsikan sebagian besar orang yang tidak ikut memilih adalah orang yang tidak pandai menulis dan buta aksara. Pendidikan lagi-lagi menjadi alat penindasan bagi penguasa, ketika hak seseorang dibatasi lantaran kurangnya pendidikan yang dimiliki oleh orang tersebut. Pendidikan telah kehilangan hakikat keberadaannya sebagai sarana pencerdasan, namun berubah menjadi alat penindasan.

Kapitalisasi pendidikan marak terjadi, disaat masyarakat tidak ada uang, seperti halnya Freire kecil, pendidikan itu hanya angan-angan. Yang boleh ikut pendidikan hanyalah orang kaya, sehingga muncul adagium “yang kaya makin pintar dan yang miskin makin  bodoh”. Uang menjadi elemen penggerak pendidikan.

Kritikan Freire

Terdapat beberapa metode pendidikan yang dikritik oleh Freire, misalnya apa yang disebut Freire sebagai metode pendidikan pradisional. Dalam metode tradisional ini, proses pembelajarannya bersifat menggurui dan menghafal. Guru berada pada posisi orang yang berilmu lebih dan cenderung memberi daripada menggali potensi muridnya, lalu sang murid diberi metode hafalan sehingga mematikan daya analisisnya.

Metode pendidikan berikutnya yang dikritik Freire adalah metode pendidikan gaya bank. Pada metode ini, guru ibarat seorang nasabah dan para murid adalah deposito. Guru menabung ilmunya kepada murid, karena para murid hanya menjadi wadah bagi guru untuk menyalurkan ilmunya, sehingga para murid hanya menjadi cetakan atau replika dari para gurunya kelak. Analoginya sama seperti sang guru adalah cerek berisi air, lalu sang murid adalah gelas kosong yang harus diisi. Murid tentu menerima bulat-bulat apa yang diberi sang guru, karena proses komunikasinya bersifat satu arah, guru memberi dan murid menerima.

Bagi Freire, sekolah dapat dikatakan baik dan berkualitas apabila ditopang dengan suasana dan keadaan yang menarik minat murid untuk betah jika berada di sekolah. Sekolah pun harus menjadi rumah kedua bagi murid, sehingga dapat memberi ketentraman dan kesejukan hati bagi murid. Sekolah tidak lagi menjadi penjara, bukan lagi menjadi bui yang  membuat murid tidak betah dan cepat ingin keluar dari sekolah, karena murid merasa sumpek dan stres dengan kepadatan jam belajar, aturan sekolah yang begitu banyak dan metode pembelajaran yang membosankan.

Pendidik Terdidik

Pendidik Terdidik, merupakan sebuah istilah yang diberikan untuk metode pendidikan alternatif yang diusulkan Freire. Metode alternatif Freire dinamai Problem Posing Education (baca: Pendidikan Hadap Masalah). Metode ini menitikfokuskan pada cara dialog untuk pembelajarannya, dimana guru belajar ke murid dan murid juga belajar kepada guru. Guru dan murid sama-sama menjadi subjek dalam berfikir, kemudian disatukan dengan objek yang sama. Dengan begitu, akan muncul metode berfikir yang konstruktif karena keduanya sama-sama menggali keilmuan dari masing-masing pihak.

Dalam fokusnya dibidang pendidikan dan pembebasan, Freire menjalankan gerakan pemberantasan buta aksara dalam rangka memberikan pendidikan kepada kaum tertindas. Karena orang-orang tertindas tidak mendapat pendidikan sebagaimana layaknya, sehingga banyak dari mereka yang tidak bisa membaca dan menulis. Freire telah berkelana ke beberapa negara, seperti Chili, Angola, Mozambik, Nikaragua dan lain-lain untuk menjalankan gerakan pemberantasan Buta Aksara tersebut. Metode yang digunakan dalam gerakan tersebut adalah praksis, yaitu proses dialektis tanpa henti antara aksi dan refleksi, dan balik menjadi refleksi dan aksi.

Dalam bukunya yang berjudul Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Freire mengatakan “Pendidikan diciptakan dan dibangun bersama, bukan untuk kaum tertindas“, hal ini karena dengan dibangun bersama, maka akan tercipta penyamarataan pendidikan. Namun kalau diperuntukkan, malah akan menciptakan perbedaan pendidikan antara yang kaya dan yang miskin, serta terjadi penjinakan secara sosial dan budaya yang sistematis.

#Merdeka!

#Politikbergagasan #Politikbermartabat

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment