Sikap

Keberagaman dan Ruang Dialog

www.hipwee.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

Kehidupan yang majemuk bukan persoalan mayoritas-minoritas, tetapi hidup berdampingan dan saling menghargai. Sentimen-sentimen mayoritas-minoritas harus dihilangkan, dan merubah mindset dengan sinergitas semua elemen. Pengintegrasian fungsi-fungsi setiap stakeholder dibutuhkan dalam rangka pembangunan nasional. Tersendatnya pembangunan nasional karena perbedaan, apakah itu budaya, agama, ras, suku dan bangsa, sementara kita sama-sama berada dalam bingkai NKRI, menjadi paradoks dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, transformasi cara berfikir menjadi penting, dari primordial, chauvinism menjadi ke-Indonesian.

Keberagaman di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Beragam suku, bangsa, ras, dan agama hidup berdampingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, filosofi Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat yang kuat untuk menjaga integrasi dan kesatuan bangsa Indonesia.

Menerima dan menghargai perbedaan menjadi sebuah kewajiban bagi setiap warga negara. Kehidupan yang plural, tidak akan mampu terwujud jika toleransi tidak bersifat inheren dalam setiap individu, dan tumbuh subur pada setiap kelompok dan golongan. Dialog-dialog lintas agama, suku, ras, dan budaya menjadi sangat penting untuk menjaga kenyamanan dan saling percaya. Dan pada dasarnya, hal-hal yang menjadi substansi dari setiap kelompok, misalnya kitab suci bagi setiap agama, harus kita hargai dan menghindarkannya dari perdebatan dan politisasi. Menghargai bukan hanya dalam hal menerima perbedaan, tetapi puncaknya adalah ketika kita juga mampu menghargai hal esensial dari kelompok lain.

Perbedaan-perbedaan yang esensial, apakah itu bersifat ideologis ataupun kepercayaan, tidak semestinya diperdebatkan di ruang publik. Hal ini mudah memicu konflik yang berlatarbelakang SARA. Perbedaan-perbedaan demikian, semestinya disampaikan pada sebuah ruang dialog yang bersifat lintas kelompok, apakah lintas agama, suku, bangsa, dan daerah. Dalam ruang dialog yang diisi oleh para pakar dan tokoh tersebut, pembicaraan akan lebih ilmiah dan meminimalisir munculnya bibit-bibit konflik. Resolusi konflik dengan cara dialog seperti ini menjadi efektif ketimbang slow respon, atau bahkan langsung mengarahkan kepada aspek hukum.

Ruang-ruang dialog seperti ini harus dipelihara dan digunakan sebagai wadah mediator perbedaan interpretasi antar dua pihak yang berselisih. Namun, pada dasarnya antar kelompok tersebut tetap menghargai hal-hal yang bersifat esensial bagi kelompok lain. Berpikir jernih menjadi keutamaan dalam kehidupan yang majemuk. Pikiran yang diliputi amarah hanya akan merusak tataran kemajemukan dan kehidupan sosial kita yang plural.

#Politikbergagasan #Politikbermartabat
#Katakantidakpadaintoleransi

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment