Sikap

Srikandi Ibu Pertiwi (2)

pocongrider.deviantart.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

Perjuangan kaum perempuan terus mewarnai belantika nusantara, terlebih dalam dunia politik. Konstruksi sosial yang mengatakan domain perempuan hanya dapur, kasur, dan sumur telah usai. Politik bukan ranah yang tabu untuk tempat mengabdi dan berjuang. Srikandi ibu pertiwi tetap akan hadir.

Srikandi-srikandi itu akan tetap terlahir dalam diri perempuan-perempuan berani ini. Masih jernih diingatan tentang delapan Menteri Perempuan di kabinet Kerja Jokowi-JK yang pertama, lalu sembilan srikandi antikorupsi yang dipilih Jokowi sebagai anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK.

Sembilan anggota Pansel Pimpinan KPK adalah para srikandi merupakan pertama kali sejak KPK berdiri, dipilih oleh Pansel yang semuanya perempuan. Kesembilan Srikandi anti-korupsi itu dipilih berdasar kompetensi, integritas, dan juga keberagaman keahlian. Dengan keahlian yang berbeda, tim ini memiliki kemampuan yang lengkap ketika menyeleksi calon pimpinan KPK. Kesembilan Srikandi itu adalah Destry Damayanti menjadi ketua tim ini dengan keahlian Ekonomi, Enny Nurbaningsih dengan keahlian Hukum Tata Negara, Yenti Garnasih dengan keahlian Hukum Pidana Bidang Ekonomi dan Tindak Pidana khusus, Supra Wimbarti dengan keahlian dibidang Psikologi, Natalia Subagyo yang merupakan Ketua Dewan Transparency Internasional Indonesia, Diana Sadiawati dengan keahlian analisa Peraturan Perundang-undangan Bappenas, Meuthia Ganie-Rochman dengan keahlian Sosial-Politik, Harkristuti Harkrisnowo sebagai ahli Hukum dan terakhir Betti Alisjahbana yang merupakan Presiden Direktur IBM dan ahli Teknologi Informasi. Kesembilan Srikandi Anti Korupsi ini kemudian diharapkan publik dapat mengembalikan marwah anti korupsi KPK dan melahirkan pimpinan-pimpinan KPK yang berani perang dengan para koruptor.

Selain itu, dalam bidang pemerintahan juga semakin banyak diisi oleh Srikandi-srikandi handal, sebut saja Walikota Surabaya, Risma. Lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastusi. Dalam bidang jurnalistik, Najwa Shihab juga hadir sebagai bagian yang melanjutkan estafet Rohana Kudus. Di legislatif dan dunia pergerakan pun tak kalah banyak, terlebih dengan politisi-politisi millenial. Sekali lagi, konstruksi sosial telah terdekonstruksi.

Tak akan Padam

Seperti orasi Bung Tomo, “selama banteng-banteng Indonesia masih memiliki darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu tidak akan mau kita untuk menyerah kepada siapapun”, maka perjuangan tak akan pernah usai.

Medan perang tak lagi seperti medan perang konvensional dulu, tetapi ada pada ranah politik. Musuh kita kali ini bukan bangsa asing, melainkan bangsa kita sendiri, seperti kata Soekarno dulu. Sehingga, segenap elemen masyarakat harus ambil bagian dalam perjuangan. Tak ada lagi pembatas-pembatas gender dalam perjuangan, perempuan masuk dunia politik bukan lagi hal tabu. Politik juga ranah perjuangan agar hak-hak perempuan terpenuhi secara maksimal.

 

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment