Sikap

Mencabut Rumput Sampai ke Akarnya (2)

www.jawapos.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

Ketika dunia pendidikan gagal dalam membangun hal demikian, lingkunganlah yang akan membentuknya. Disini letak munculnya persoalan. Dengan beragamnya kelompok masyarakat yang ada di lingkungan, potensi ketidaksesuain proses dan hasil pembangunan karakter dan ideologi dengan Keindonesiaan akan terbuka, karena lingkungan secara stuktural maupun kultural tidak dibawah kendali negara, lingkungan merupakan ruang publik yang bebas dengan berbagai ekspresi dan pemikiran. Ketika dewasa nanti, setiap warga negara akan rentan menerima doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Melawan Isme atau Teroris?

Melawan teror bukan hanya melawan pelaku teror (teroris), tetapi isme-isme yang membuat mereka melakukan tindakan tersebut. Ada “sesuatu” yang membuat mereka berani atau nekat melakukan tindakan tersebut, disinilah poin penting pemberantasan terorisme, memberantas “sesuatu” tersebut. “Sesuatu” tersebut seakan menjadi organ reproduksi teroris-teroris baru, sehingga terlalu fokus memburu pelaku, seperti halnya mencabut rumput tidak sampai ke akarnya.

Ketegasan pemerintah terhadap pelaku tindak pidana terorisme memang dibutuhkan, karena hal demikian mencerminkan kehadiran negara dalam melindungi warga negara dari pelaku teror. Namun, pemberantasan terorisme tidak cukup sekedar sifat tegas pemerintah terhadap pelaku tindak pidana terorisme. Efek jera belum menyentuh ranah substansi dari persoalan pemberantasan terorisme, karena hukuman atau punishment tidak cukup kuat untuk menjadi tombaknya.

Dari riset Setara Institute tersebut, dapat kita pahami bahwa tangga pertama menuju terorisme adalah persoalan intoleransi. Sehingga, secara sederhana, prioritas dalam pemberantasan terorisme seharusnya menyasar kepada bagaimana penanggulangan persoalan intoleransi ini, apakah berbasis regulasi, narasi, rehabilitasi, atau partisipasi? Jika pemberantasan terorisme tidak diarahkan kepada penanggulangan terorisme, efektivitas penanganan tidak akan maksimal. Karena, selagi pemberantasan bergerak ditengah dan diujung, reproduksi terus bergulir dipangkal.

Butuh pola dan strategi pemberantasan terorisme yang tidak hanya berfokus kepada pemotongan jalur-jalur distribusi kelompok terorisme, misalnya aliran dana, persebaran kelompok teroris, tempat latihan, dan metode perekrutan kelompok teroris.

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment