Sikap

Millenial, Mahasiswa, dan Pembangunan

subkampussmkn57jakarta.wordpress.com
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

Sejarah berdirinya negeri ini, bangsa ini, tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda atau dalam sebutan sekarang disebut kaum millenial. Masing-masing rezim pemerintahan menjadi saksi, bahwa yang menjadi lokomotif perubahan ketika itu adalah kaum millenial. Sehingga, keberadaan kaum millenial di suatu daerah, pada dasarnya memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam upaya pembangunan daerah.

Kaum millenial ini, kita kerucutkan kepada mahasiswa. Selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, mahasiswa ibarat tengah melakukan pertapaan di tempat yang jauh dari masyarakat. Memang begitu lazimnya, pertapaan dilakukan untuk menyendiri dan merenung sembari memperdalam dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk diaplikasikan kepada masyarakat nantinya. Akan tetapi, meskipun bertapa, informasi-informasi perihal kemasyarakatan harus tetap di update mahasiswa.

Dalam mengikuti perkembangan zaman, keberadaan anak muda di suatu wilayah pada dasarnya merupakan modal penting dalam pembangunan di masa depan. Selepas menamatkan diri di Sekolah Menengah Atas/sederajat, mereka harus melanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi. Hal ini berguna untuk memperdalam wawasan, serta mengkonsentrasikan disiplin ilmu serta mengembangkan softskill yang akan digunakan ketika membangun wilayah atau daerah masing-masing.

Di Perguruan Tinggi, banyak hal yang harus mereka kembangkan, terutama kapasitas diri. Misalnya, Indonesia turut menjadi salah satu negara yang mengintegrasikan ekonominya kedalam Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), sehingga Perguruan Tinggi merupakan wadah untuk mempersiapkan mahasiswanya untuk bersiap menghapi MEA. Untuk itu, bekal yang didapat mahasiswa di Perguruan Tinggi itulah yang kemudian dibawa mahasiswa ke daerah masing-masing dan menjadi persiapan daerah.

Soe Hoe Gie pernah mengatakan, “ketika saatnya kelak, para resi itu harus turun gunung untuk membangun atau mengatasi masalah di negerinya”. Para mahasiswa dapat pula kita analogikan sebagai resi tadi, karena tugas mereka sebagai mahasiswa memang tidak jauh-jauh dari pengabdian kepada masyarakat. Mulai dari agen perubahan, penyiap generasi berikutnya, dan sosial kontrol. Demikian juga dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang juga mencantumkan pengabdian masyarakat kedalam sesuatu yang harus dilakukan oleh mahasiswa.

Seseorang setidaknya akan menyia-nyiakan statusnya sebagai mahasiswa jika tidak mau berpartisipasi dalam proses pembangunan negeri. Toh negeri ini, bangsa kita ini proses pembangunannya tidak bisa dilepaskan dari gerakan mahasiswa atau kaum millenial. Orde lama dan orde baru telah merasakan bagaimana spirit perubahan dan semangat perjuangan dari mahasiswa, bagaimana ketika para mahasiswa ini merasakan dan berada dalam kesamaan persepsi, maka perubahan bukan hal yang mustahil dilakukan.

Dalam konteks kedaerahan, setiap daerah pasti memiliki putra-putri terbaiknya yang tengah menimba ilmu di Perguruan Tinggi. Sehingga, mereka menjadi ujung tombak perubahan bagi daerah mereka. Kemudian, dalam membangun daerahnya, menjemput bola harus dilakukan oleh mahasiswa ini, karena tidak cukup hanya dengan turun gunung. Dan yang paling penting, modal sosial yang didapat dari Perguruan Tinggi seperti relasi atau sinergi dengan masyarakat, public speaking, dan softskill lainnya harus dielaborasi dan menjadikan kita konseptor yang baik untuk pembangunan daerah.

Satu poin penting lainnya, generasi millenial jangan lupakan kampung halamannya.

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment