Sikap

Generasi Milenial dan Lokomotif Perubahan

thinkdigital.id
Written by Disna Riantina

Oleh : Disna Riantina

Hasil survei Litbang Kompas pada 24 September-5 Oktober 2018 tentang persepsi politik kaum milenial menunjukkan, generasi milenial cenderung lebih kritis dalam melihat kinerja pemerintah ketimbang nonmilenial. Hal ini terlihat dari tingkat kepuasan generasi milenial yang nyaris dari seluruh indikator lebih rendah ketimbang tingkat kepuasan generasi nonmilenial (kecuali pelayanan kesehatan, 64,5% berbanding 63,9% untuk kaum milenial) terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla.

Misalnya tingkat kepuasan terhadap pemberantasan KKN, terdapat 5,1% milenial menjawab sangat tidak puas, 39,6% tidak puas, dan hanya 48,3% yang mengatakan puas. Berbanding dengan 3,3% yang menjawab sangat tidak puas, 35% tidak puas, dan 53,4% menjawab puas dari nonmilenial. Dari segi lain, yaitu lapangan kerja dan persoalan pengangguran pun demikian, 7,7% milenial menjawab sangat tidak puas, 54% tidak puas, dan 34,3% menjawab puas. Berbanding dengan 4,3% nonmilenial menjawab sangat tidak puas, 49,2% tidak puas, dan 41,7% merasa puas.

Namun uniknya, hasil survei tersebut juga menunjukkan tingkat kepuasan yang rendah tersebut tidak berbanding dengan tingkat keyakinan kelompok atau optimistis terhadap kondisi bangsa kedepan. Artinya, meskipun angka kepuasan kelompok milenial rendah terhadap kinerja pemerintahan kini, namun kaum milenial tetap optimis melihat masa depan bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari angka tingkat keyakinan kelompok milenial, dalam hal politik dan keamanan sebesar 75,4%, hukum 73,4%, ekonomi 73,7%, dan sosial 76,7%.

Dari hasil penelitian ini, kita bisa melihat dua hal. Pertama, kaum milenial memiliki penilaian sendiri tentang kinerja pemerintah yang tentu berbeda dengan penilaian generasi nonmilenial. Sebelumnya, generasi milenial dalam survei ini adalah responden yang ketika survei berada pada rentan usia 17-37 tahun. Sementara nonmilenial diatas 37 tahun. Kembali lagi soal yang pertama tadi, bahwa hal ini semakin membuktikan perbedaan pola fikir antar dua generasi yang berbeda ini. Tipikal milenial yang berfikir dinamis dan kreatif, membuat apa yang mereka fikir bagus atau baik itu akan terus berkembang. Mereka tidak punya ketetapan baku yang membuat cara fikir sempit, sehingga hal-hal baru selalu hinggap di fikiran mereka.

Berbeda dengan generasi nonmilenial. Perlu digaris bawahi, saya tidak menjudge bahwa generasi nonmilenial tidak bisa survive dengan kondisi zaman seperti sekarang, namun mengutip tulisan Ahmad Zaky, Founder & CEO Bukalapak di opini Kompas (29/10/18), di dunia yang berubah berubah dengan sangat cepat ini, anak-anak muda memiliki peluang dan kemampuan yang jauh lebih baik untuk membawa bangsa kita pada kemajuan yang diharapkan, karena, disaat tokoh-tokoh berpengalaman kesulitan mempelajari disrupsi, anak-anak mudalah yang berselancar diatas pelbagai gelombang disrupsi itu. Lebih lanjut, dalam tulisan tersebut Ahmad Zaky menegaskan bahwa anak-anak muda tidak terbebani oleh cara berfikir lama yang telah membatu dan menghambat kita untuk melangkah ke zaman yang baru.

Dalam konteks ini, sorotan kemudian dapat diarahkan kepada lingkungan dan kesempatan. Pertanyaannya adalah, apakah lingkungan mendukung dan mengakomodir keberadaan kelompok milenial ini? lalu, apakah kelompok milenial diberi kesempatan? jawabannya hanya dua, ya atau tidak. Jika ya, maka generasi milenial harus beri 100% kemampuan mereka untuk berpartisipasi. Namun jika tidak, generasi milenial harus gigih merebut dan memperjuangkan panggung tersebut dari kelompok orang-orang tua yang tidak memberi mereka ruang partisipasi. dengan kata lain, jiwa aktivisme itu tidak boleh redup.

Kedua, generasi milenial merupakan generasi yang memiliki optimisme tinggi untuk masa depan meskipun realitas sekarang menunjukkan sebaliknya. Dalam hal ini, kita bisa memahami ini menjadi konklusi dari semangat, mimpi, ide, dan gagasan. keempat hal ini yang ketika berkolaborasi dalam aktivisme anak muda, bertransformasi menjadi optimisme, dan tentu saja hal itu merupakan optimisme yang rasional, bukan utopis.

Sifat kritis dan optimisme milenial ini amat dibutuhkan bangsa Indonesia untuk menentukan arah geraknya di masa depan. Sudah cukup kita mengakomodir politik-politik kotor dan tidak bermatabat ini. Melalui anak muda, kita melihat ada politik yang produktif yang mereka usung, dan negara harus mampu mengakomodir dan membuka ruang gerak untuk anak muda ini.

Milenial bukan pangsa politik bagi kaum tua, mereka adalah subjek atas politik itu sendiri. Milenial bukan juga sekedar objek politik yang diperebutkan suaranya untuk pemenangan, tetapi lebih dari itu, mereka adalah kelompok yang harus diajak bekerjasama, bersinergi, dan diberi ruang seluas-luasnya untuk berkarya dan bersuara, karena mereka punya ide, gagasan, kreativitas, mimpi, dan tentu saja semangat untuk mewujudkannya.

#Salammilenial #Politikgagasan #Politikbermartabat.

 

About the author

Disna Riantina

Leave a Comment